Yasinan Malam Jumat Menjadi Ruang Refleksi Spiritual Warga Binaan Lapas Wahai
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 20

Yasinan Malam Jumat Menjadi Ruang Refleksi Spiritual Warga Binaan Lapas Wahai (Dok. Istimewa)
Melalui yasinan rutin setiap malam Jumat di Masjid At-Taubah, Lapas Kelas III Wahai meneguhkan pembinaan rohani. Selain itu, kegiatan ini menjadi refleksi diri serta harapan perubahan berkelanjutan bagi Warga Binaan secara humanis dan religius.
WAHAI, Pastime News – Pada malam Jumat, Lapas Kelas III Wahai kembali menciptakan suasana yang damai. Kegiatan ini dilakukan dengan melaksanakan yasinan rutin di Masjid At-Taubah.
Selain itu, puluhan warga binaan berkumpul dengan penuh ketertiban, duduk bersila, menunduk, sambil bersama-sama membaca Surah Yasin, Kamis (5/2) malam.
Sementara itu, suara ayat suci terdengar lembut, melewati jeruji. Alunan ayat ini juga membawa ketenangan dalam jiwa di balik dinding lembaga pemasyarakatan.
Lalu, Ketua Majelis Taklim sekaligus Kepala Subseksi Admisi dan Orientasi, La Joi, menegaskan bahwa malam Jumat memiliki makna emosional yang dalam.
Selama yasinan, banyak warga binaan terlihat fokus, menangis, menyadari kesalahan masa lalu, dan meminta maaf,” kata La Joi.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kegiatan ini mampu memperkuat rasa kebersamaan, saling mengingatkan satu sama lain, serta menjaga fokus dalam pembinaan spiritual yang berkelanjutan.
Di sisi lain, bagi warga binaan, yasinan malam Jumat bukan hanya sekadar rutinitas ibadah biasa.
Sebaliknya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk merenungkan diri. Selain itu, peserta dapat menyusun niat serta memperkuat harapan untuk menjadi orang yang lebih baik.
Selanjutnya, salah satu warga binaan yang berinisial HH menjelaskan bahwa membaca yasin memberikan rasa tenang di dalam hati yang tidak bisa di gantikan oleh hal lain.
Malam Jumat dan yasinan di masjid Lapas membuat hati tenang dan kesadaran semakin kuat,” kata HH.
Menurutnya, doa dan pengulangan ayat suci berfungsi sebagai pengingat. Dengan demikian, ada kesempatan kedua meskipun seseorang berada di balik penjara.
Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa yasinan yang di lakukan secara rutin mencerminkan upaya pembinaan yang berlandaskan nilai humanis dan religius.
Penguatan mental dan moral sangat penting, karena harapan harus terus diperkuat selama menjalani masa tahanan,” kata Tersih.
Di tempat lain, Kakanwil Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengatakan bahwa pembinaan rohani merupakan dasar dari Sistem Pemasyarakatan.
Kegiatan keagamaan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran spiritual agar warga binaan siap kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” pesannya.
Oleh karena itu, melalui pendidikan yang menyeluruh, warga binaan Lapas Wahai belajar mengelola perasaan, merasakan perasaan orang lain, serta merencanakan hidup di masa depan.
Akhirnya, kegiatan rohani mengingatkan bahwa doa adalah suara harapan yang tak pernah terbatas. Sebab, setiap kesempatan untuk berubah selalu tetap terbuka.
- Penulis: Husni
