ATLAS Nama Browser Terbaru OpenAI
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 26

ATLAS Nama Browser Terbaru OpenAI (Dok. Istimewa)
JAKARTA, PAStime News — OpenAI meluncurkan browser web terbaru bernama Atlas melalui siaran langsung yang mengejutkan publik global.
Selain itu, peluncuran tersebut dibuka langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman.
Peluncuran Atlas Menandai Pergeseran Paradigma Browser Berbasis AI yang Menggabungkan Pengalaman Percakapan, Pencarian Kontekstual, dan Tantangan Baru bagi Dominasi Google
Dalam sambutannya, Sam Altman menyampaikan keyakinan OpenAI terhadap potensi besar kecerdasan buatan.
“Kami percaya AI adalah peluang langka untuk memikirkan ulang apa itu sebuah browser,” ujar Altman.
Lebih lanjut, Altman menilai pengalaman percakapan akan menggantikan bilah URL dan pencarian konvensional.
“Pengalaman chat dan browser web kini menjadi analogi baru yang cepat dan relevan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan berakhirnya cara lama masyarakat menggunakan internet.
Selain itu, Altman menempatkan layanan lama sebagai bagian ekosistem yang segera digantikan AI.
Sebagian besar layanan tersebut selama ini berpusat pada Google.
Sementara itu, proyek browser OpenAI telah menjadi perbincangan di Silicon Valley sejak musim panas lalu.
Sejak awal, Atlas dipandang sebagai ancaman potensial bagi dominasi Chrome milik Google.
Presentasi produk terbaru memperjelas besarnya dampak Atlas terhadap bisnis pencarian Google.
Selain itu, keberhasilan Gemini di nilai belum cukup menahan tekanan tersebut.
Ancaman utama muncul dari basis pengguna ChatGPT yang mencapai 800 juta pengguna mingguan.
Jika pengguna beralih ke Atlas, maka Chrome berpotensi kehilangan basis penggunanya.
Meskipun Chrome gratis, kehilangan pengguna membatasi penargetan iklan dan trafik Google Search.
Kondisi ini semakin sensitif setelah Google di larang membuat kesepakatan eksklusif pencarian.
Selain itu, Atlas memperkenalkan pendekatan pencarian berbasis percakapan yang berbeda.
Kepala teknik Atlas, Ben Goodger, menjelaskan perubahan mendasar tersebut.
“Model pencarian ini sangat kuat dan bersifat multi-tahap,” jelas Goodger.
“Pengguna dapat berdialog dengan hasil pencarian, bukan sekadar di arahkan ke halaman web,” tambahnya.
Pendekatan ini melampaui integrasi AI Google yang masih berbentuk tambahan kotak informasi.
Dengan demikian, interaksi dua arah Atlas di nilai sulit ditiru oleh Chrome.
Jika populer, model ini berpotensi mengganggu dominasi pencarian Google.
Selain pencarian, Atlas juga membuka peluang besar di sektor periklanan digital.
Saat ini, OpenAI belum menayangkan iklan, namun tidak menutup kemungkinan ke depan.
Selain itu, OpenAI mulai merekrut talenta di bidang teknologi periklanan.
Dengan Atlas, ChatGPT memperoleh konteks langsung dari aktivitas browser pengguna.
Data tersebut bernilai tinggi untuk penargetan iklan berbasis perilaku.
Namun demikian, isu privasi menjadi perhatian besar bagi pengguna.
Berbeda dengan Google atau Meta, tingkat akses ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Atlas masih berada pada tahap awal pengembangan produk.
Keberhasilannya sangat bergantung pada penerimaan dan kebutuhan pengguna.
Namun demikian, OpenAI kini menunjukkan arah bisnis yang lebih komersial.
Perusahaan fokus pada pertumbuhan pengguna dan pendapatan berkelanjutan.
Produk seperti Atlas dipandang sebagai kunci menjawab tantangan biaya infrastruktur OpenAI.
Dengan demikian, Atlas berpotensi menjadi penentu masa depan strategi bisnis OpenAI.
- Penulis: Husni
