Bukan Sekadar Koleksi, Menbud Fadli Zon Sebut Kartu Pos Rekam Wajah Kota dari Masa ke Masa
- account_circle Ghiffary Alfiansyach
- calendar_month
- visibility 18

Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Foto : Kementerian Kebudayaan
PAStime News, BALI – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa kartu pos bukan sekadar benda koleksi, melainkan medium penting yang merekam wajah kota, bangunan, jalan, hingga kehidupan sosial masyarakat pada masanya.
“Kartu pos, prangko, dan cap pos bukan hanya koleksi, tetapi juga bercerita. Dari sana kita bisa membaca sejarah kota, perkembangan teknik fotografi, hingga dinamika sosial di zamannya,” ujar Menbud Fadli Zon dalam peluncuran Buku Kartu Pos Bergambar Samarangh di Kawasan Kota Lama Semarang, Sabtu.
Peluncuran buku tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Kota Semarang sebagai bagian dari komitmen bersama dalam upaya pelestarian, pendokumentasian, serta penguatan nilai-nilai budaya melalui literasi visual dan sejarah.
Menbud menjelaskan penggunaan ejaan lama “Samarangh” dalam judul buku bukan dimaksudkan untuk mengubah nama kota, melainkan menghadirkan ingatan historis agar lebih melekat dalam kesadaran publik. Ia menambahkan, buku ini menjadi awal dari rangkaian penerbitan serupa tentang kota-kota lain di Indonesia.
“Ke depan, kami menargetkan sekitar sepuluh buku kartu pos bergambar, termasuk Yogyakarta, Bandung, Batavia, dan kota-kota lainnya,” ujarnya.
Peluncuran buku ini turut dirangkaikan dengan pameran temporer bertajuk Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Posyang digelar selama tujuh hari, mulai 19 hingga 26 Desember 2025 di kawasan Kota Lama.
Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang atas dukungan dan ruang yang diberikan bagi kegiatan kebudayaan, khususnya di kawasan bersejarah Kota Lama. Ia berharap buku ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan masyarakat tentang sejarah Kota Semarang.
“Ke depan, gambar-gambar kartu pos ini juga bisa dikembangkan, diperbesar, dan didistribusikan sebagai narasi visual sejarah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” katanya.
Senada dengan Menbud, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti berharap buku tersebut mampu menyentuh emosi pembaca sekaligus membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan identitas Kota Semarang.
Sebagai seorang filatelis, Fadli Zon mengungkapkan bahwa dirinya telah mengoleksi sekitar 7.000 hingga 8.000 kartu pos dari berbagai wilayah di Indonesia. Koleksi tersebut diklasifikasikan berdasarkan kota, dengan jumlah terbanyak berasal dari kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Bukittinggi yang dahulu dikenal sebagai Fort de Kock.
Melalui karya visual dalam buku dan pameran tersebut, pengunjung diajak menelusuri perubahan ruang Kota Semarang dan memahami dinamika sejarah hanya melalui gambar.
“Melalui karya-karya ini, kita tidak hanya melihat gambar, tetapi juga membaca cerita tentang bagaimana kondisi sebuah jalan di masa lalu dan bagaimana keadaannya sekarang,” tutup Menbud.
- Penulis: Ghiffary Alfiansyach
