Coco Rope Lapas Purwodadi Diekspor Ke Belgia, Perancis dan Australia: Bukti Pembinaan Berstandar Global
- account_circle Adilman Zai
- calendar_month
- visibility 1
- comment 0 komentar

PAStime News, Purwodadi — Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi kembali menunjukkan hasil yang membanggakan. Produk kerajinan berupa coco rope atau mainan anjing berbahan serabut kelapa hasil karya Warga Binaan kini berhasil menembus pasar internasional melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang di berikan di Lapas tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi Warga Binaan.
Kepala Seksi Pembinaan dan Anak Didik Lapas Purwodadi, Sony Nevridiy Anto, mengungkapkan kebanggannya saat menerima kunjungan kerja Kepala Pusdatin dan Komunikasi Publik, Akbar Hadi, pada Jumat (28/11/2025).
“𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬, 𝘤𝘰𝘤𝘰 𝘳𝘰𝘱𝘦 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘦𝘬𝘴𝘱𝘰𝘳 𝘬𝘦 𝘉𝘦𝘭𝘨𝘪𝘢, 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘯𝘤𝘪𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘶𝘴𝘵𝘳𝘢𝘭𝘪𝘢,” ujarnya.
Sony menjelaskan bahwa proses produksi di lakukan oleh 11 Warga Binaan sebagai pekerja inti, namun tidak jarang melibatkan ratusan Warga Binaan dari blok masing-masing. Setiap hari, para Warga Binaan mampu memproduksi 100–125 unit coco rope, dengan total produksi mencapai sekitar 3.000 unit per bulan untuk kebutuhan ekspor.
Produk mainan anjing ini di buat di bengkel kerja Lapas Purwodadi menggunakan bahan baku serabut kelapa berkualitas. Dengan pendampingan instruktur serta mitra industri, Warga Binaan di bekali keterampilan mulai dari teknik produksi, pengendalian kualitas, hingga pemahaman standar keamanan produk hewan peliharaan yang berlaku secara global. Hasilnya, produk handmade para Warga Binaan mampu memenuhi standar ekspor dan lolos uji kualitas, sehingga di minati pembeli dari berbagai negara.
Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan dampak moral positif bagi Warga Binaan. Mereka merasa di hargai karena hasil kerja kerasnya mampu menembus pasar internasional. Para warga binaan juga menerima premi bulanan dari hasil produksi yang mereka kerjakan.
“𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨, 𝘺𝘢. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘓𝘢𝘱𝘢𝘴, 𝘵𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘰𝘥𝘢𝘭 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢,” pesan Akbar Hadi kepada Warga Binaan.
Keberhasilan ekspor coco rope ini kembali menegaskan bahwa Lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan yang produktif, kreatif, dan berorientasi masa depan. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan terus mendorong inovasi pembinaan di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan agar praktik baik seperti ini dapat di replikasi dan memberikan manfaat luas bagi Warga Binaan maupun masyarakat.
- Penulis: Adilman Zai
