Pelatihan yang berlangsung di Aula Lapas Perempuan Palu ini di rancang untuk membekali peserta dengan kemampuan praktis sekaligus membangun mental wirausaha. Para peserta di pilih berdasarkan minat, kedisiplinan, dan motivasi tinggi untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang pengolahan pangan, khususnya produk coklat bernilai ekonomi.
Kalapas Perempuan Palu, Yoesiana, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis dalam mendorong pemberdayaan warga binaan.
“Pelatihan ini bukan hanya membekali keterampilan, namun juga membangun mental wirausaha sebagai modal perubahan diri,” ujarnya.
Ia berharap keterampilan yang di berikan dapat terus di asah sehingga mampu menghasilkan produk coklat yang kreatif, variatif, dan memiliki daya saing di pasaran.
“Semoga keterampilan ini terus di asah dan berkelanjutan sehingga memberikan kontribusi positif setelah bebas nanti,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan. Ia mendorong warga binaan agar mengikuti setiap materi dengan serius demi hasil optimal.
“Ikuti kegiatan dengan baik, pasti ada manfaat yang di dapatkan. Keterampilan ini akan menjadi modal berharga untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri dan terhormat setelah bebas,” tegasnya.
Pelatihan di pandu langsung oleh instruktur Farmtisan Lestari Berjaya, Fatima Iskandar, yang mengajarkan teknik pengolahan coklat mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan yang menarik dan memiliki nilai jual.
“Saya berharap setelah pelatihan ini mereka bisa membuka usaha sendiri sebagai bekal masa depan,” ujar Fatima.
Dukungan Bank Sulteng yang di wakili oleh Pemimpin Divisi Umum, Untung, juga menjadi wujud komitmen institusi dalam meningkatkan kemandirian ekonomi warga binaan dan memperkuat kemitraan pembangunan sosial.
Pada penutupan kegiatan, seluruh peserta menerima tanda apresiasi. Mereka mengungkapkan rasa bangga dan berharap dapat mengikuti pelatihan lanjutan untuk memperluas kemampuan dan menambah keterampilan wirausaha.
Melalui program pelatihan pengolahan coklat ini, Lapas Perempuan Kelas III Palu menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan produktif yang berdampak jangka panjang. Upaya ini juga sejalan dengan program Kementerian Hukum dan HAM dalam mendorong lahirnya produk UMKM karya warga binaan sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi serta persiapan reintegrasi sosial yang lebih baik.

