Likuiditas Berlebih Picu Gelembung Aset Global, Tak Hanya Sektor AI
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 5

Likuiditas Berlebih Picu Gelembung Aset Global, Tak Hanya Sektor AI (Dok. Istimewa)
JAKARTA, Pastime News — Ketersediaan likuiditas yang berlebih mendorong kenaikan harga berbagai aset di pasar, termasuk di luar sektor kecerdasan buatan.
Hal ini diungkapkan oleh Richard Bernstein Advisors dalam mengevaluasi kondisi pasar global saat ini.
Richard Bernstein Advisors menilai kebijakan moneter dan fiskal longgar mendorong lonjakan valuasi lintas aset, memperbesar risiko gelembung pasar global
Selain itu, perusahaan tersebut menilai adanya kenaikan nilai aset hampir di semua sektor.
Fenomena ini dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi.
Mike Contopoulos, Wakil Kepala Investasi dari Richard Bernstein Advisors, menilai pasar masa kini berada dalam fase gelembung.
Saat ini, pasar menghadapi gelembung hampir di seluruh sektor, bukan hanya di sektor kecerdasan buatan.
Lebih lanjut, Contopoulos juga menyebutkan bahwa gelembung ini mencakup mata uang kripto, saham meme, SPAC, dan pasar kredit.
Pandangan ini disampaikannya dalam podcast Bloomberg Intelligence Credit Edge.
Sebagai pelaku pasar yang berpengalaman, Contopoulos menyoroti dampak dari kebijakan moneter dan fiskal yang longgar.
Menurutnya, kebijakan ini mendorong harga aset melebihi nilai dasar mereka.
Selain itu, keberadaan kecerdasan buatan menjadi perhatian khusus bagi para investor kredit.
Investor kredit berisiko mengalami kerugian jika ekspektasi pertumbuhan kecerdasan buatan tidak tercapai.
Kekhawatiran juga muncul terkait pengeluaran infrastruktur kecerdasan buatan oleh perusahaan teknologi besar.
Pendanaan pengeluaran tersebut sebagian besar berasal dari pasar utang Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg, pengeluaran modal perusahaan teknologi besar di perkirakan meningkat secara signifikan.
Anggaran Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta di proyeksikan naik 34 persen menjadi sebesar USD440 miliar.
Contopoulos memperkirakan sektor teknologi akan mengalami koreksi pada tahun ini.
Investor perlu mempertimbangkan risiko pembiayaan utang jangka panjang untuk teknologi yang cepat usang.
Hingga kini, Richard Bernstein Advisors tidak memiliki investasi dalam aset kredit korporasi.
Sebelumnya, perusahaan pernah mengambil posisi overweight di sektor tersebut.
Menurut Contopoulos, selisih yield yang berada di bawah 90 basis poin membuat peluang berinvestasi tidak menarik.
Ke depan, selisih yield berpotensi melebar jika Federal Reserve menunda penurunan suku bunga.
Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi risiko tambahan.
Dengan situasi tersebut, RBA melihat peluang pada aset alternatif.
Fokus investasi di arahkan pada obligasi pinjaman yang di jamin, sekuritas hipotek, dan saham Eropa.
Saham Eropa kelas dunia menawarkan stimulus fiskal, kebijakan yang mendukung, dan pertumbuhan laba yang menjanjikan.
- Penulis: Husni
