Sekolah Ramah Anak Kota Bandung Terwujud Lewat Kolaborasi, Bukan Instruksi
- account_circle mamang
- calendar_month
- visibility 43

Sekolah Ramah Anak di Bandung adalah langkah penting menuju pendidikan yang aman, sehat, dan berpihak pada anak. (Dok: Diskominfo Kota Bandung/UPI)
PAStime News, Bandung, 10 Oktober 2025 — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa Sekolah Ramah Anak tidak dapat terwujud hanya melalui perintah atau kebijakan formal, melainkan membutuhkan kolaborasi semua pihak mulai dari pendidik, orang tua, siswa, hingga dunia usaha.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Deklarasi Sekolah Ramah Anak Kota Bandung yang berlangsung di Sekolah Taruna Bakti, Jumat (10/10). Acara ini menandai komitmen kuat Kota Bandung dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, inklusif, dan berpihak pada anak.
“Sekolah ramah anak itu bukan soal aturan di atas kertas, tapi tentang kerja bersama. Terwujud dengan kolaborasi, bukan instruksi,” ujar Farhan.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga menyoroti kualitas pendidikan di Kota Bandung yang menurutnya telah menunjukkan hasil nyata. Ia menyebut banyak lulusan sekolah di Bandung yang diterima di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, seperti ITB, Unpad, UPI, ISBI, dan UIN.
“Anak-anak Bandung memenuhi kursi di berbagai kampus terbaik negeri ini. Ini bukti bahwa Bandung melahirkan generasi unggul,” lanjutnya.
Farhan juga mengingatkan bahwa Bandung memiliki sejarah panjang dalam mencetak tokoh nasional, termasuk Presiden Soekarno dan Presiden B.J. Habibie, serta sejumlah menteri aktif saat ini.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, Uum Sumiati, mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat:
-
721 PAUD dan TK
-
429 SD
-
237 SMP
yang sedang menjalani proses menuju kategori Sekolah Ramah Anak, sesuai dengan Keputusan Wali Kota Bandung.
“Tiga sekolah bahkan sudah mencapai level ‘maju’ sesuai standar nasional,” kata Uum.
Penerapan Sekolah Ramah Anak di Bandung mengacu pada enam komponen utama, yaitu:
-
Kebijakan sekolah yang berpihak pada anak
-
Tenaga pendidik dan kependidikan yang memahami hak anak
-
Proses pembelajaran yang menghargai anak
-
Sarana dan prasarana yang aman dan inklusif
-
Partisipasi aktif anak dalam proses pendidikan
-
Keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam lingkungan sekolah
“Kami ingin anak-anak Bandung punya ruang untuk menyampaikan suara, termasuk soal transportasi umum yang aman dan ruang bermain yang layak,” tambah Uum.
Wali Kota bandung Farhan menutup sambutannya dengan harapan agar deklarasi ini menjadi langkah awal yang konsisten dalam membangun sekolah yang berbasis kasih sayang, komunikasi, dan keamanan bagi anak-anak.
“Pendidikan bukan hanya soal angka atau peringkat, tapi tentang membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai antara guru dan siswa,” tegasnya.
- Penulis: mamang
