Inovasi Pertanian Lapas Bandanaira: Mengubah Lahan Terbatas Menjadi Pusat Pembelajaran Hidroponik Kemnaker
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 29

Sumber: Lapas Bandanaira (Dok. Istimewa)
BANDANAIRA, PAStime News — Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bandanaira konsisten memperkuat ketahanan pangan kawasan.
Selain itu, instansi tersebut mengoptimalkan fasilitas lapas sebagai wadah edukasi bagi generasi muda.
Oleh karena itu, Lapas Bandanaira mengenalkan teknik budidaya hidroponik kepada peserta magang Kemnaker Batch 1.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan edukatif ini melibatkan Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda secara langsung.
Hasilnya, para peserta magang memahami bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk tetap produktif.
Secara teknis, metode hidroponik dipilih karena sangat sesuai dengan kondisi geografis Lapas Bandanaira.
Di samping itu, program bercocok tanam ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kemandirian Warga Binaan.
Selanjutnya, Kepala Lapas Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, menegaskan komitmen lembaganya dalam membangun budaya produktif.
“Kami ingin peserta magang tidak hanya mendapatkan pengalaman administrasi dan lingkungan kerja, tetapi juga pengetahuan praktis yang dapat mereka kembangkan setelah menyelesaikan program magang. Hidroponik menjadi salah satu pilihan karena dapat diterapkan pada lahan yang terbatas dan memiliki nilai produktif,” ujar Kalapas Abdul Samad Rumuar.
Kemudian, beliau menambahkan bahwa program ketahanan pangan ini memiliki jangkauan manfaat yang luas.
Sebab, kegiatan tersebut menjadi media pembelajaran aplikatif bagi Warga Binaan Pemasyarakatan.
“Program ketahanan pangan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat,” tambah Abdul Samad Rumuar.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda, Alwi Arif, memaparkan seluruh tahapan hidroponik.
Secara rinci, pemaparan mencakup pengenalan metode, pemilihan bibit, perawatan rutin, hingga proses panen.
Lebih lanjut, ia menekankan krusialnya pendampingan berkelanjutan bagi pembinaan kemandirian di dalam lapas.
“Penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan teknik budidaya, pemilihan bibit, perawatan tanaman, hingga proses panen. Melalui kerja sama yang baik dengan Lapas, kami berharap Warga Binaan dapat memperoleh keterampilan yang bermanfaat dan mampu mendukung ketahanan pangan,” ungkap Koordinator Penyuluh Pertanian Banda, Alwi Arif.
Oleh sebab itu, para peserta magang merasakan pengalaman kerja yang sangat berkesan.
Bahkan, mereka memperoleh wawasan praktis mengenai pemanfaatan area sempit untuk kegiatan produktif.
Pada kesempatan yang sama, salah satu peserta magang turut memberikan pandangan positifnya.
“Saya melihat kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan yang positif karena selain memberikan keterampilan, juga membangun kebiasaan dan sikap produktif yang dapat diterapkan Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat,” ungkap peserta magang Kemnaker, Santi Tri Winarsi.
Akhirnya, integrasi program ini diharapkan mampu mencetak SDM yang mandiri serta terampil.
- Penulis: Husni
