Inovasi Pembinaan Humanis Lapas Geser Lestarikan Seni Budaya Tradisional Seram Bagian Timur Lewat Pelatihan Tari Sawat dan Alat Musik Khas Tifa Rebana Bagi Warga Binaan
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 23

Sumber: Lapas Geser (Dok. Istimewa)
GESER, PAStime News – Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Geser meluncurkan pelatihan seni Tari Sawat.
Bahkan, program ini membekali warga binaan dengan keahlian memainkan alat musik tradisional pengiring.
Oleh karena itu, Subseksi Pembinaan merangkul peserta magang untuk mengoptimalkan transfer ilmu seni budaya.
Akibatnya, interaksi kolaboratif ini mampu mengasah keterampilan sekaligus mengokohkan rasa cinta budaya lokal.
Selain itu, para peserta diajarkan teknik memukul tifa, memainkan rebana, hingga meniup suling.
Meskipun demikian, fokus utama kegiatan ini tetap bertumpu pada pembentukan karakter berbasis kearifan lokal.
Selanjutnya, Staf Pembinaan Raul F. Attamimi menegaskan pentingnya program pembinaan berbasis kebudayaan leluhur.
Ia menjelaskan,
“Pelatihan Tari Sawat dan musik pengiringnya adalah bentuk pembinaan kepribadian berbasis seni dan budaya.”
Tambah Raul,
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mempererat hubungan emosional antara petugas dan Warga Binaan, sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.”
Dengan demikian, pendekatan ini efektif mempererat sinergi emosional serta menjaga kelestarian tradisi daerah.
Di sisi lain, peserta magang Abdul Muthalib Killian memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme warga binaan.
Ia memuji,
“Mereka sangat bersemangat mempelajari setiap gerakan tari dan ketukan musik pengiring.”
Oleh sebab itu, kegiatan positif ini menjadi sarana edukasi konstruktif selama masa pidana.
Kemudian, Abdul menambahkan keterlibatan peserta magang sebagai bentuk kontribusi nyata pembinaan di Lapas.
Ia mengungkapkan,
“Kami ingin menjadikan pelatihan ini sebagai sarana bagi Warga Binaan untuk mengekspresikan bakat…”
Lanjutnya,
“…sekaligus upaya nyata dalam melestarikan tarian budaya dan mengembangkan musik tradisional di Kabupaten Seram Bagian Timur.”
Bahkan, langkah ini merupakan bentuk dukungan konkret dalam mendukung pembinaan kebudayaan lokal.
Sebagai hasilnya, warga binaan berinisial AR menyambut baik pelatihan seni tari dan musik tersebut.
AR mengungkapkan,
“Kami memperoleh keterampilan baru yang sangat berharga, baik dalam menari Sawat maupun memainkan musik pengiringnya.”
Oleh karena itu, ruang kreativitas ini menjadi wadah produktif dalam mengisi waktu luang.
Akhirnya, Kepala Lapas Geser Nober Hasanda menegaskan komitmen lembaga dalam mengusung pendekatan humanis.
Beliau menyampaikan,
“Pelestarian budaya melalui tari Sawat dan musik Tifa ini adalah salah satu langkah kami…”
Lanjutnya,
“…untuk membentuk karakter Warga Binaan yang lebih baik.”
Beliau menambahkan,
“Kami berharap mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan membawa bekal keterampilan…”
Seraya berharap,
“…dan rasa cinta yang mendalam terhadap budaya sendiri.”
Ringkasnya, pelestarian budaya ini menjadi pijakan utama dalam membentuk karakter warga binaan yang unggul.
- Penulis: Husni
