Taksi Terbang China Mulai Uji Coba: Transportasi 40 Km Hanya 15 Menit, Indonesia Jadi Target Berikutnya
- account_circle Ghiffary Alfiansyach
- calendar_month
- visibility 30

Bajo Winarno, penumpang asal Indonesia turun dari taksi terbang EH216-S di kantor EHang, Guangzhou, provinsi Guangdong pada 27 November 2025. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
PAStime News, JAKARTA – China selangkah lebih dekat mewujudkan mobilitas masa depan dengan memamerkan uji coba taksi terbang berkecepatan tinggi yang mampu menempuh jarak 40 kilometer hanya dalam 15 menit. Pada akhir November 2025, pesawat tanpa awak EH216-S buatan EHang mengudara di kawasan inovasi Guangzhou dan menarik perhatian publik dengan suara dengungan khas layaknya “drone” raksasa.
EH216-S merupakan pesawat elektrik lepas landas–mendarat vertikal (eVTOL) tanpa pilot yang dirancang khusus untuk mobilitas udara rendah di wilayah perkotaan. Dalam uji terbang tersebut, salah satu penumpang, Bajo Winarno, menyampaikan pengalamannya yang memukau saat mengudara selama satu menit bersama wahana itu. Pesawat sepenuhnya dikendalikan pusat kontrol sehingga penumpang hanya duduk dan menikmati perjalanan.
Model EH216-S menjadi eVTOL tanpa pilot pertama di dunia yang mengantongi sertifikat tipe, sertifikat produksi, serta kelaikan udara standar dari Otoritas Penerbangan Sipil China (CAAC). Dengan kecepatan hingga 81 mph dan jangkauan 30 kilometer, wahana ini siap digunakan untuk transportasi penumpang, logistik, wisata udara hingga misi darurat medis.
Industri eVTOL China berkembang pesat dengan hadirnya produsen lain seperti Xpeng Aeroht, GAC GOVY, TCab Tech, Aerofugia hingga Zero Gravity. Beberapa di antaranya telah menerima pesanan internasional senilai miliaran dolar, memulai produksi uji coba, dan bersiap menjalankan operasi komersial pada 2026. Kombinasi kemampuan terbang vertikal, teknologi baterai, serta sistem kontrol otomatis menjanjikan efisiensi tinggi sekaligus keamanan yang mumpuni.
Laporan China Low-Altitude Economy Alliance memproyeksikan lebih dari 100.000 eVTOL akan beroperasi di China pada 2030. Sektor low-altitude economy mencatat nilai bisnis 506 miliar yuan pada 2023 dan diperkirakan melonjak hingga 3,5 triliun yuan pada 2035. Pertumbuhan pesat ini juga didukung kebijakan nasional Tiongkok yang sejak 2021 memasukkan mobil terbang ke dalam rencana jaringan transportasi tiga dimensi.
Tak hanya menyasar pasar domestik, EHang juga membidik Indonesia sebagai pasar strategis. Wakil Presiden EHang, He Tianxing, mengungkapkan bahwa perusahaan telah melakukan penerbangan uji di Bali dan Jakarta sebagai persiapan menuju layanan komersial. Menurutnya, Indonesia dengan ribuan pulau sangat membutuhkan moda mobilitas udara cerdas untuk transportasi antar-pulau, logistik, situasi darurat hingga evakuasi bencana.
Tianxing menyatakan EHang telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar di Indonesia dan membuka peluang pembentukan joint venture maupun pusat produksi jika ekosistem dan kebijakan semakin mendukung. Ia meyakini Indonesia akan menjadi salah satu pasar terkuat di Asia Tenggara.
Meski potensinya besar, industri eVTOL masih menghadapi tantangan, terutama pengembangan teknologi sensor, kecerdasan buatan, kontrol cerdas dan fasilitas pendukung seperti charging station bertegangan tinggi serta titik lepas landas khusus. Namun demikian, kemajuan teknologi transportasi udara rendah terus didorong agar masyarakat dunia dapat merasakan pengalaman terbang singkat dan aman layaknya “burung modern” dalam waktu dekat.
Dengan berbagai inovasi yang terus berkembang dan minat global yang meningkat, taksi terbang kini bukan lagi cerita fiksi ilmiah, melainkan gerbang menuju era baru mobilitas udara perkotaan yang semakin dekat di depan mata.
- Penulis: Ghiffary Alfiansyach
