Transformasi Spiritual Lapas Tabanan: Narasi Baru Warga Binaan Hindu Menemukan Kembali Arah Hidup Melalui Pembinaan Moral Komprehensif
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 23

Sumber: Lapas Tabanan (Dok. Istimewa)
TABANAN, PAStime News — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tabanan secara konsisten menggelar program pembinaan spiritual Dharma Wacana bagi warga binaan.
Oleh karena itu, kegiatan keagamaan ini diselenggarakan atas kerja sama erat bersama Kementerian Agama Kabupaten Tabanan secara berkelanjutan.
Selanjutnya, program strategis ini bertujuan untuk memperkokoh keimanan warga binaan sekaligus menumbuhkan karakter positif sebagai bekal reintegrasi sosial.
Di sisi lain, pembinaan moral secara bertahap diharapkan dapat membangun kesadaran diri para peserta secara mendalam dan menyeluruh.
Mengenai hal tersebut, Kepala Lapas Tabanan, Basuki Raharjo, menegaskan pentingnya pendekatan spiritual dalam proses pemulihan perilaku warga binaan.
“Dharma Wacana menjadi sarana memperkuat keimanan sekaligus membentuk karakter Warga Binaan,” kata Kalapas Tabanan, Basuki Raharjo, menjelaskan.
“Kami berharap mereka makin memahami nilai-nilai agama, memiliki pengendalian diri yang lebih baik,” tambah Basuki Raharjo secara tegas.
“Serta menjadikannya pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih positif,” tutur Basuki Raharjo dalam keterangan resminya kepada media.
Selain itu, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Tabanan, Wayan Balik Tamba, memberikan materi interaktif mengenai penerapan ajaran moral sehari-hari.
Sebab, pemahaman keteguhan mental serta pengendalian diri sangat dibutuhkan warga binaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan saat ini.
Lebih lanjut, Wayan mengajak seluruh peserta menjadikan nilai agama sebagai petunjuk utama ketika menghadapi hambatan moral yang berat.
“Agama hadir sebagai penerang jalan bagi kita yang kehilangan arah,” ujar Penyuluh Agama Kemenag Tabanan, Wayan Balik Tamba.
“Dengan mengikuti ajaran-Nya, niscaya kita diberikan jalan untuk menghadapi setiap cobaan yang sedang dijalani,” jelas Wayan menegaskan.
Akibatnya, suasana pembinaan reflektif tersebut berhasil menyentuh sisi personal warga binaan untuk melakukan introspeksi secara mendalam.
Bahkan, salah satu warga binaan berinisial Nengah S. mengaku menemukan ruang kontemplasi spiritual yang sangat berharga selama menjalani pembinaan.
“Saya hilang arah dan jarang bersembahyang,” akui salah seorang warga binaan berinisial Nengah S. secara jujur.
“Mungkin di sini tempat saya merenung dan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi,” ungkap Nengah melanjutkan refleksinya.
Oleh sebab itu, Lapas Tabanan berkomitmen mempertahankan ruang refleksi ini guna menumbuhkan kesadaran diri warga binaan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, pembinaan karakter ini diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih baik sebelum warga binaan kembali ke masyarakat.
- Penulis: Husni
