Ekonomi Indonesia 2025 Stabil tapi Pertumbuhan Lemah, UMKM dan Investasi Produktif Masih Jadi Tantangan
- account_circle Ghiffary Alfiansyach
- calendar_month
- visibility 161

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno (kedua kiri), CEO Katadata Metta Dharmasaputra (kedua kanan), Pemred Bisnis Indonesia Maria Benyamin (kanan), dan moderator Rizki Aljupri (kiri) menyampaikan paparannya dalam diskusi Refleksi Akhir Tahun 2025, di Ruang Delegasi MPR, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/12/2025) Dok : Istimewa
PAStime News, JAKARTA – Stabilitas ekonomi Indonesia sepanjang 2025 relatif terjaga di tengah ketidakpastian global. Inflasi terkendali di kisaran 2,5–3 persen, defisit fiskal tetap terkendali, dan nilai tukar rupiah relatif stabil. Namun, stabilitas saja belum cukup untuk mendorong pertumbuhan yang kuat dan berkualitas.
Menurut Syahrir Ika, Peneliti Ahli Utama BRIN dan Ketua Umum Perhimpunan Periset Indonesia (PPI), capaian pertumbuhan ekonomi 2025 yang diperkirakan 5,2–5,4 persen masih moderat dan belum memasuki fase akselerasi menuju target 8 persen pada 2029. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, sementara investasi dan pembiayaan produktif dari sektor keuangan belum optimal.
“Stabilitas yang berkepanjangan bisa menutupi kelemahan struktural. Ekonomi kita memerlukan akselerasi, bukan sekadar ketenangan administratif,” ujar Syahrir.
Investasi dan Kredit Produktif Masih Terbatas
Kontribusi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terhadap pertumbuhan PDB berada di kisaran 2,1–2,3 persen. Nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) masih tinggi di 6,0–6,5, menandakan investasi relatif mahal untuk tambahan output yang kecil. Fungsi intermediasi keuangan juga belum berjalan optimal; meski likuiditas bank cukup, rasio kredit terhadap PDB baru 38–40 persen, jauh di bawah standar negara mitra.
Fenomena crowding-out dari penempatan dana bank pada Surat Berharga Negara (SBN) memperkuat tantangan ini. Likuiditas beredar, tetapi aliran ke sektor produktif masih terbatas.
Pembiayaan UMKM Perlu Direformulasi
Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus meningkat, mencapai Rp220 triliun pada 2025, namun sebagian besar bersifat jangka pendek dan hanya mendukung modal kerja. Pendampingan usaha, penguatan kapasitas, serta integrasi dengan rantai pasok masih minim, sehingga dampak terhadap produktivitas UMKM belum optimal.
Tantangan dan Strategi 2026
Memasuki 2026, tantangan ekonomi tidak ringan. Bencana alam memerlukan anggaran pemulihan besar, sementara ketidakpastian global tetap tinggi. Stabilitas makro harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang lebih kuat, efisien, dan inklusif.
Syahrir Ika menekankan beberapa langkah strategis:
Belanja fiskal dan investasi pemerintah difokuskan pada sektor dengan multiplier tinggi, seperti hilirisasi industri menengah, manufaktur berteknologi menengah, logistik, dan energi.
Penyaluran kredit produktif mendapat insentif melalui instrumen likuiditas Bank Indonesia.
Pembiayaan UMKM diarahkan pada peningkatan kapasitas, pendampingan, dan integrasi rantai pasok, bukan hanya modal kerja.
Koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan diperkuat agar stabilitas makro mendorong ekspansi kredit yang sehat.
“Tahun 2026 harus menjadi momentum koreksi arah. Stabilitas saja tidak cukup; keberanian mendorong pertumbuhan berkualitas menjadi kunci,” tutup Syahrir.
- Penulis: Ghiffary Alfiansyach
