Inovasi Hidroponik Bambu Lapas Geser Sukses Panen 170 Ikat Kangkung Segar Layak Jual
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 32

Sumber: Lapas Geser (Dok. Istimewa)
GESER, PAStime News – Lapas Kelas III Geser berhasil memanen 170 ikat kangkung hidroponik.
Selanjutnya, kegiatan panen berlangsung pada Senin (10/8) lalu.
Bahkan, program ini merupakan bentuk nyata pembinaan kemandirian.
Selain itu, langkah inovatif ini mendukung ketahanan pangan lokal.
Oleh karena itu, Kepala Lapas Nober Hasanda memimpin panen.
Di samping itu, pejabat struktural turut mendampingi beliau.
Sementara itu, anggota DWP Cabang Lapas Geser hadir.
Kemudian, warga binaan serta masyarakat sekitar ikut memanen.
Akibatnya, masyarakat sangat antusias membeli hasil panen tersebut.
Lalu, Nober Hasanda menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas.
Di sisi lain, beliau memuji kerja keras warga binaan.
Dengan demikian, keterbatasan lahan bukan penghalang untuk produktif.
Oleh sebab itu, Kalapas Nober Hasanda menegaskan hal berikut:
“Panen kangkung hidroponik sebanyak 170 ikat ini merupakan bukti nyata bahwa keterbatasan ruang dan lahan tidak menghalangi produktivitas Warga Binaan.”
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan, sekaligus pembekalan keterampilan nyata bagi mereka agar siap kembali ke masyarakat kelak.”
“Kami sangat bersyukur karena hasil panen ini sangat memikat masyarakat, bahkan mereka turut datang langsung untuk memanen sekaligus membeli.”
Berikutnya, Kasubsi Pembinaan Junaidi Laisouw menjelaskan penggunaan media bambu.
Sebab, metode hidroponik bambu sangat efisien serta mudah dipelajari.
Oleh karena itu, warga binaan diajarkan seluruh proses budidaya.
Artinya, pelatihan mencakup penyemaian benih hingga masa panen.
Maka, Kasubsi Pembinaan Junaidi Laisouw memberikan penjelasan resmi:
“Kami terus berupaya menghadirkan inovasi pembinaan kemandirian yang relevan, aplikatif, dan bernilai ekonomis tinggi.”
“Melalui metode hidroponik ini, Warga Binaan diajarkan proses budidaya secara menyeluruh,”
“mulai dari penyemaian benih, perawatan nutrisi air, hingga masa panen.”
“Hasilnya sangat memuaskan, bahkan produk sayuran sehat ini langsung diminati pembeli.”
Sebaliknya, salah satu warga binaan berinisial JR merasa bersyukur.
Meskipun demikian, ia terus belajar mengelola instalasi hidroponik.
Hasilnya, kerja keras mereka dihargai secara nyata.
Terkait hal tersebut, warga binaan berinisial JR mengungkapkan rasa bahagianya:
“Melihat tanaman tumbuh subur hingga dipanen dan dibeli langsung oleh warga sekitar,”
“membuat kami merasa hasil kerja keras kami dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat.”
Meskipun begitu, tanggapan positif datang dari masyarakat setempat.
Sebagai contoh, seorang pembeli bernama Wabale memuji kualitas kangkung.
Menurutnya, sayuran hidroponik tersebut sangat segar dan bersih.
Selain itu, Wabale juga menambahkan kesannya sebagai pembeli:
“Kangkung hidroponiknya sangat segar, bersih, dan sangat hygienis.”
“Selain harganya terjangkau, kami senang bisa membeli langsung hasil karya Warga Binaan di Lapas.”
Akhirnya, program pembinaan mandiri ini diharapkan terus berkembang.
Singkatnya, keterampilan bercocok tanam menjadi bekal berharga warga binaan.
Pada dasarnya, bekal ini sangat berguna setelah mereka bebas.
- Penulis: Husni
