Kemdiktisaintek Perkuat Kolaborasi Literasi Sains melalui Akademisi dan Platform Digital
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 51

Kemdiktisaintek Dorong Transformasi Literasi Sains melalui Kolaborasi Akademisi dan Platform Digital
Bandung, PAStime News – Kemdiktisaintek memperkuat kolaborasi kampus, pemerintah, dan ekosistem teknologi. Selain itu, upaya ini mendukung pembelajaran inklusif sesuai kebutuhan masa kini. Melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, pemerintah menggelar Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential #FYP di Sasana Budaya Ganesa, Kamis (4/11).
Dirjen Saintek Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani menegaskan transformasi pendidikan tinggi tidak hanya soal teknologi. Sebaliknya, perguruan tinggi harus mampu mengalirkan ilmu pengetahuan ke masyarakat luas.
Menurut Dirjen Najib, digitalisasi meningkatkan aliran informasi. Namun, jarak akademisi dan publik justru melebar. Fenomena itu memicu penurunan kepercayaan publik terhadap ilmuwan.
Dirjen Najib menjelaskan tiga sekat yang memisahkan sains dan masyarakat. Pertama, eksklusivitas ilmu. Lalu, minimnya komunikasi kredibel. Selain itu, partisipasi publik masih terbatas dalam proses ilmiah.
“Sains harus hidup dalam denyut nadi masyarakat,” ujar Dirjen Najib. Ia menekankan ilmu harus menjadi gerakan publik melalui citizen science, living labs, dan open science.
Akademisi juga memiliki empat peran penting. Mereka menjadi komunikator sains, fasilitator co-creation, penghubung pengetahuan lokal, dan pembentuk budaya sains publik.
Sains Harus Hadir untuk Publik: Transformasi Digital Mengubah Cara Akademisi Berkomunikasi dan Berkolaborasi dengan Masyarakat
Melalui gerak kolaboratif, Kemdiktisaintek ingin kampus tampil di garda depan komunikasi sains. Karena itu, digitalisasi tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga mengubah cara publik memahami pengetahuan ilmiah. Informasi memang berlimpah, namun akurasinya sering di pertanyakan.
Oleh sebab itu, akademisi perlu hadir aktif di ruang digital agar masyarakat mendapatkan edukasi yang dapat di percaya. Dengan demikian, sains kembali menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan publik. Kampus juga harus membuka ruang publik yang lebih inklusif. Lalu, keterlibatan masyarakat dalam proses ilmiah harus di perkuat.
Melalui itu, sains tidak lagi dipandang milik segelintir ahli. Sebaliknya, ia menjadi bagian hidup masyarakat. Transformasi ini memastikan bahwa riset dan inovasi benar-benar memberi manfaat nyata. Karena itu, komunikasi sains membutuhkan tata kelola baru yang kolaboratif, partisipatif, dan berbasis nilai kemanusiaan. Jika kolaborasi terus tumbuh, ekosistem ilmiah nasional akan berkembang lebih cepat.
- Penulis: Husni
