DLH Edukasi Warga DAS Hadapi Bencana, Kolaborasi dengan Marinir dan DSDA Jabar
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 120

DLH Edukasi Warga DAS Hadapi Bencana
CIKARANG BARAT, PAStime News – Satgaster Patroli Sungai Batalion Roket 1 Marinir bersama DLH Kabupaten Bekasi dan DSDA Jawa Barat mengedukasi puluhan warga Desa Danau Indah, Kamis (04/12/2025). Kegiatan ini bertujuan mendorong mitigasi banjir, mengurangi risiko longsor, serta meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan sungai.
Penguatan Edukasi DAS, Kolaborasi Mitra Pemerintah, Penegakan Aturan Sempadan Sungai, Pengurangan Sampah Sungai, Pemantauan Wilayah Rawan Longsor, Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, serta Dukungan terhadap Inisiatif Masyarakat agar Mitigasi di Bekasi Lebih Terarah dan Cepat Dilaksanakan
Ketua Tim Pengendalian Persampahan DLH Kabupaten Bekasi, Eddy Sirotim, mengapresiasi antusiasme warga. Ia menilai inisiatif pembentukan Bank Sampah sangat penting. Selain itu, DLH mendukung penuh pembentukan dan pembinaan hingga berjalan aktif. “Jika pelaporan baik, kami bantu pengajuan baktor,” ujarnya. Banyak sampah dari pedagang keliling justru masuk ke sungai sehingga Bank Sampah diharapkan mengurangi ancaman tersebut.
Saat ini Bekasi memiliki potensi sampah 2.100 ton per hari. Namun hanya 700 ton masuk TPA Burangkeng sehingga pengelolaan mandiri warga sangat krusial. Karena itu DLH terus mengedukasi masyarakat agar peduli kebersihan sungai.
Dansatgaster Patroli Sungai Batalion Roket 1 Marinir, Lektol Baron Habibi menjelaskan edukasi ini tindak lanjut kerja sama Pemprov Jawa Barat dan TNI AL. Satgaster memperkuat kesiapsiagaan wilayah menghadapi bencana hidrometeorologi.
“Kami menyisir Kali Cikarang dari Bogor hingga muara Bekasi,” ungkap Baron. Tim menemukan titik rawan longsor dan bangunan liar di beberapa wilayah termasuk Desa Danau Indah. Upaya ini memastikan masyarakat lebih siap menghadapi puncak musim hujan.
Kepala Bidang Sungai, Pantai dan Pengendalian Banjir DSDA Jawa Barat, Hendra Wardana menyebut ancaman hidrometeorologi meningkat karena perubahan iklim dan urbanisasi.
Kapasitas DAS juga menurun sehingga risiko banjir makin tinggi. “Air dari Bendung Katulampa tiba di Kali Bekasi hanya delapan jam,” jelasnya. Dampak hujan kecil tetap terasa di Bekasi sehingga kewaspadaan harus terus meningkat.
Selain itu, DSDA berfokus pada edukasi dan penanaman pohon sukun serta kelapa di sempadan sungai. Langkah ini membantu penguatan lahan serta pengelolaan sampah lebih bijak. “Kami usulkan penegakan hukum bagi pelanggar sempadan sungai,” tegasnya. Oleh karena itu, kolaborasi masyarakat dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan mitigasi.
- Penulis: Husni
