Lapas Atambua Sulap Satu Set Sofa Usang Kembali Bernilai Estetik Dengan Warga Binaan
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 20

Lapas Atambua Sulap Satu Set Sofa (Dok. Istimewa)
ATAMBUA, PAStime News – Sebagai hasil pembinaan kemandirian, Warga Binaan Lapas Kelas IIB Atambua menyelesaikan restorasi satu set sofa.
Melalui Pokja Mebel, Warga Binaan mengubah sofa rusak menjadi furnitur mewah berdesain kekinian.
Pengerjaan restorasi ini rampung dalam enam hari, tepat pada Rabu (24/12).
Keberhasilan restorasi sofa oleh Pokja Mebel Lapas Atambua mencerminkan efektivitas pembinaan kemandirian berbasis keterampilan praktis yang bernilai estetika dan berorientasi kesiapan reintegrasi sosial
Selanjutnya, empat Warga Binaan mengerjakan restorasi di bengkel kerja Lapas Atambua.
Selain itu, petugas instruktur kegiatan kerja, Agus Seran, membimbing dan mengawasi langsung proses pengerjaan.
Dengan demikian, kegiatan ini menjadi bagian pembinaan kemandirian berkelanjutan bagi Warga Binaan.
Dalam prosesnya, Agus menjelaskan tahapan restorasi dilakukan secara sistematis dan terukur.
“Tahap awal berfokus pada perbaikan rangka sofa dengan mengganti kayu yang rusak agar kembali kokoh.”
“Selanjutnya, Warga Binaan mengganti kain sofa melalui proses pemotongan, penjahitan, dan pemasangan.”
“Pada tahap akhir, kami melakukan pengecatan ulang untuk memperindah tampilan dan melindungi kayu.”
“Sentuhan akhir ini memperkuat kesan elegan dan membuat sofa tampak seperti baru,”
jelas Agus Seran.
Sementara itu, salah satu Warga Binaan, Vincen, menyampaikan apresiasi atas program pembinaan tersebut.
Menurutnya, pembinaan kemandirian memotivasi Warga Binaan untuk terus berkarya.
“Kami bangga karena Lapas menghadirkan pembinaan kemandirian yang bervariasi dan inovatif.”
“Kegiatan ini memotivasi kami menghasilkan karya luar biasa dan bernilai.”
“Saya berharap keterampilan ini menjadi bekal berharga saat bebas nanti,”
harap Vincen.
Di sisi lain, Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan nilai strategis pembinaan mebel.
Selain itu, ia menilai bengkel kerja sebagai investasi keterampilan jangka panjang.
“Program bengkel kerja menjadi bekal mumpuni bagi Warga Binaan saat kembali ke masyarakat.”
“Keterampilan mebel memiliki peluang bisnis menjanjikan dan bernilai ekonomi,”
ucap Bambang.
“Kami berharap mereka menjadi pribadi produktif dan mandiri setelah bebas,”
tambahnya.
Akhirnya, keberhasilan restorasi ini menegaskan fungsi pembinaan Lapas Atambua berjalan holistik.
Dengan demikian, Lapas menjadi wadah pengembangan potensi Warga Binaan secara optimal.
Melalui pendekatan ini, Warga Binaan kembali ke masyarakat dengan keterampilan bernilai jual dan bermanfaat secara ekonomi.
- Penulis: Husni
