Muhasabah dan Ibadah Bersama Sambut Tahun Baru 2026, Lapas Perempuan Palu Teguhkan Toleransi dan Pembinaan Spiritual
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 10

Muhasabah dan Ibadah Bersama Sambut Tahun Baru 2026, Lapas Perempuan Palu Teguhkan Toleransi dan Pembinaan Spiritual (Dok. Istimewa)
SIGI, PAStime News — Menyambut Tahun Baru 2026, Lapas Perempuan Kelas III Palu menggelar muhasabah dan ibadah bersama.
Kegiatan ini di ikuti seluruh petugas dan Warga Binaan pada Jumat (2/1).
Selain itu, kegiatan turut di hadiri Ustaz Abjan Jauhari dan Pendeta Rita Budiman.
Muhasabah dan ibadah lintas agama di Lapas Perempuan Palu menjadi momentum refleksi, penguatan spiritual, dan penanaman nilai kebersamaan menyongsong Tahun Baru 2026.
Selanjutnya, kegiatan di mulai pukul 11.00 WITA hingga selesai.
Pelaksanaan berlangsung serentak di berbagai tempat ibadah dalam lapas.
Lokasi ibadah meliputi Musala An-Nisa, Gereja Tesalonika, dan tempat ibadah umat Hindu.
Dengan demikian, pelaksanaan mencerminkan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.
Sementara itu, Kepala Lapas Perempuan Palu, Yoesiana, menegaskan pentingnya momentum muhasabah dan ibadah bersama.
“Melalui muhasabah ini, kami mengajak Warga Binaan merefleksikan perjalanan hidup dan proses pembinaan.
Harapannya, kegiatan ini menumbuhkan ketenangan batin, kesadaran diri, dan semangat memperbaiki diri pada 2026.”
Senada, Kepala Subseksi Pembinaan, Effendy, menilai kegiatan keagamaan berdampak positif terhadap pembentukan karakter.
“Ibadah dan doa bersama menjadi bagian pembinaan kepribadian.
Kegiatan ini memberikan ketenangan psikologis, memperkuat spiritual, serta menata harapan dan tujuan hidup.”
Selain itu, doa bersama juga ditujukan bagi korban bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.
Secara khusus, doa dipanjatkan bagi korban di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Oleh karena itu, kegiatan ini mencerminkan empati dan kepedulian sosial keluarga besar lapas.
Akhirnya, Lapas Perempuan Palu berharap nilai religius dan semangat perubahan terus tertanam.
Dengan demikian, Warga Binaan memiliki bekal positif selama pembinaan dan setelah kembali ke masyarakat.
- Penulis: Husni
