Rupiah Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Meningkat Tajam
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 69

Rupiah Tembus Rp17.660 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Meningkat Tajam dok:(Istimewa)
JAKARTA, PAStime News – Pelemahan rupiah di picu kombinasi faktor global, revisi indeks MSCI, ketidakpastian fiskal, serta lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik AS–Iran yang masih berlangsung.
Rupiah Tertekan, Sentuh Level Terendah Baru di Tengah Ketidakpastian Global dan Domestik
Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, rupiah melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Rupiah Indonesia sempat menembus Rp17.660 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026. Karena itu, rupiah mencatat pelemahan sekitar 1,15 persen.
Level tersebut mencatat rekor terendah intraday terbaru di pasar spot. Dengan demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin meningkat.
Tekanan rupiah muncul dari berbagai faktor sekaligus. Selain itu, ketidakpastian global dan kuatnya dolar AS memperburuk kondisi.
Investor juga mencermati arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik. Oleh sebab itu, rupiah sulit keluar dari tekanan.
Tekanan tidak berasal dari satu faktor tunggal. Namun demikian, pasar menilai sejumlah risiko secara bersamaan.
Risiko tersebut mencakup perubahan indeks MSCI, kualitas pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan fiskal. Selain itu, persepsi investor turut memperburuk sentimen.
Tekanan MSCI dan Arus Keluar Investor
Perubahan indeks MSCI menjadi salah satu pemicu tekanan rupiah. Selain itu, enam saham Indonesia dikeluarkan dari Global Standard Index.
MSCI dalam review Mei 2026 melakukan penyesuaian tersebut. Karena itu, pasar merespons dengan kekhawatiran baru.
Bobot Indonesia di indeks emerging market berpotensi menurun. Dengan demikian, eksposur investor terhadap Indonesia ikut berkurang.
Ekonom DBS Radhika Rao memperkirakan bobot Indonesia turun menjadi 0,5–0,6 persen. Sebelumnya, posisi Indonesia berada mendekati 0,8 persen.
“Investor akan menyesuaikan portofolio, sehingga berpotensi memicu arus keluar moderat,” tulis Radhika Rao.
Selain itu, investor global yang mengikuti MSCI melakukan penyesuaian portofolio. Akibatnya, permintaan aset Indonesia menurun.
Ketika bobot turun, kebutuhan kepemilikan saham Indonesia ikut melemah. Oleh karena itu, tekanan terhadap rupiah meningkat.
Pertumbuhan Ekonomi dan Persepsi Pasar
Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 menunjukkan hasil kuat. Namun demikian, pasar belum sepenuhnya merespons positif.
Indonesia mencatat pertumbuhan yang ditopang konsumsi dan belanja pemerintah. Selain itu, kontribusi investasi masih terbatas.
Pasar menilai struktur pertumbuhan belum cukup kuat. Dengan demikian, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih.
Radhika Rao menilai dorongan utama berasal dari konsumsi dan belanja pemerintah. Namun, investasi dan perdagangan belum dominan.
“Pertumbuhan gagal menggairahkan rupiah karena tidak didorong investasi atau perdagangan,” tulis Radhika.
Selain itu, investor menilai kualitas pertumbuhan lebih penting daripada angka. Oleh sebab itu, sentimen tetap hati-hati.
Persepsi Fiskal dan Tekanan Nilai Tukar
Selain faktor ekonomi, persepsi fiskal turut menekan rupiah. Dengan demikian, pasar menilai arah kebijakan anggaran pemerintah.
Ezaridho Ibnutama menyebut nilai tukar mencerminkan kebijakan fiskal. Selain itu, pasar menilai disiplin anggaran sangat penting.
“Nilai tukar adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah,” tulis Ezaridho.
Selain itu, pelemahan rupiah meningkatkan beban utang berdenominasi dolar. Akibatnya, biaya kewajiban meningkat dalam rupiah.
“Setiap penurunan rupiah menggelembungkan biaya cicilan utang,” tulis Ezaridho.
Karena itu, investor mencermati kebijakan fiskal secara ketat. Selain itu, mereka juga memantau defisit anggaran.
Geopolitik AS–Iran dan Harga Minyak
Ketidakpastian geopolitik turut menekan rupiah. Selain itu, konflik Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung.
Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan. Karena itu, pasar energi tetap volatil.
Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, risiko pasokan dari kawasan Teluk meningkat.
Minyak Brent naik 1,9 persen ke 111,34 dolar AS per barel. Sementara itu, WTI menguat 2,3 persen ke 107,84 dolar AS.
Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran Selat Hormuz. Oleh sebab itu, risiko gangguan pasokan meningkat.
Harga minyak tinggi menekan inflasi dan neraca perdagangan. Selain itu, kebutuhan valuta asing ikut meningkat.
“Geopolitik dan MSCI menekan rupiah melewati Rp17.500,” tulis Radhika Rao.
Dengan demikian, tekanan rupiah berasal dari kombinasi global dan domestik. Selainitu, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset rupiah.
- Penulis: Husni
