Indonesia–China Perkuat Kerja Sama Pendidikan 2025, Fokus AI, Vokasi, dan Kesehatan
- account_circle Ghiffary Alfiansyach
- calendar_month
- visibility 123

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie. Indonesia dan China terus memperkuat kemitraan pendidikan di sejumlah bidang strategis, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga kesehatan di sepanjang tahun 2025. Dok.Diktisaintek
PAStime News, JAKARTA – Indonesia dan China terus mempererat kerja sama di bidang pendidikan sepanjang 2025, dengan cakupan kemitraan yang semakin luas pada sektor-sektor strategis, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pendidikan vokasi, hingga riset kesehatan dan maritim. Penguatan kolaborasi ini sejalan dengan meningkatnya minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi di China.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie dan Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong pada Juni 2025. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat untuk terus mendorong penguatan kerja sama pendidikan, khususnya di bidang pendidikan vokasi sebagai penopang kebutuhan sumber daya manusia unggul di era transformasi teknologi.
Pendidikan vokasi menjadi salah satu area kerja sama yang berkembang pesat. Sepanjang tahun lalu, sejumlah perguruan tinggi vokasi dari kedua negara menandatangani berbagai kesepakatan baru. Sekolah Vokasi IPB menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi vokasi di China di bidang pertanian dan teknologi digital, sementara UIN Walisongo Semarang menggandeng perguruan tinggi vokasi di Provinsi Jiangsu, China timur, untuk pengembangan pendidikan kecerdasan buatan.
Selain itu, Indonesia dan China secara aktif menyelenggarakan forum yang mempertemukan perguruan tinggi vokasi dengan pelaku industri. Pertemuan tahunan Aliansi Industri dan Pendidikan TVET China–Indonesia (China–Indonesia TVET Industry Education Alliance/CITIEA) yang digelar di China pada September 2025 menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama baru. Kegiatan tersebut berlangsung bersamaan dengan Forum China–ASEAN tentang Peningkatan Standar Pendidikan Vokasi melalui Integrasi AI.
Sejumlah inisiatif strategis disepakati, antara lain pembentukan pusat pengembangan keterampilan AI dan green skills, penerapan program pendidikan vokasi sistem ganda (dual system), pertukaran dosen dan mahasiswa vokasi, serta pengembangan TVET Digital Platform berbasis AI.
Di luar pendidikan vokasi, kerja sama pendidikan Indonesia–China juga mencakup kolaborasi riset di berbagai sektor strategis. Di bidang kesehatan, Universitas Indonesia (UI) menjalin sedikitnya dua kerja sama dengan perguruan tinggi China, yakni antara Sekolah Vokasi UI dan Hubei University of Chinese Medicine di bidang pengobatan tradisional, serta kerja sama UI dengan Tsinghua University terkait rencana pendirian Belt and Road Laboratory for Vaccine and Genomics.
Sementara di sektor kelautan, riset bersama dilakukan oleh UGM, UI, dan ITB bersama lembaga penelitian dari China pada Agustus 2025. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk mengobservasi keanekaragaman hayati dan geologi maritim di perairan selatan Pulau Sumba.
Penguatan kerja sama pendidikan dan penelitian ini sejalan dengan meningkatnya popularitas China sebagai tujuan pendidikan tinggi bagi warga Indonesia. Survei terbaru yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa China menjadi pilihan teratas bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi, terutama karena ketersediaan beasiswa yang luas serta biaya pendidikan dan biaya hidup yang relatif terjangkau.
Melalui sinergi pendidikan dan riset yang semakin erat, Indonesia dan China diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia unggul, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing kedua negara di tingkat global.
- Penulis: Ghiffary Alfiansyach
