Pembangunan Lintas LRT Jakarta Jalur Velodrome Menuju Manggarai Resmi Memasuki Tahap Final Dengan Progres Fisik Mencapai Sembilan Puluh Tujuh Persen Siap Beroperasi Akhir Agustus
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 32

Sumber: Pemprov DKI Jakarta (Dok. Istimewa)
JAKARTA, PAStime News — Pembangunan LRT Jakarta Velodrome–Manggarai kini resmi memasuki tahap penyelesaian akhir dengan progres 97,9 persen.
Selanjutnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan operasional jalur transportasi ini dapat dimulai pada akhir Agustus 2026.
Oleh karena itu, keberadaan lintasan baru ini diharapkan mampu memperluas konektivitas mobilitas warga Jakarta dan kawasan aglomerasi.
“Ini akan memberi banyak kemudahan bagi warga Jakarta maupun dari sekitar Jakarta, aglomerasi yang akan menggunakan fasilitas yang ada, baik itu LRT maupun KRL maupun tempat ini yang di Manggarai. Karena semuanya transportasinya menjadi lebih mudah,” ujar Gubernur Pramono saat meninjau lokasi, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, pengerjaan saat ini difokuskan pada penyempurnaan sistem persinyalan serta pengujian fasilitas operasional akhir stasiun secara menyeluruh.
“Kalau ditanya berapa kesiapan secara keseluruhan, sekarang ini sudah di angka 97,9 persen, jadi hampir 98 persen. Apa yang kurang? Yaitu hanya pensinyalan di beberapa titik, tetapi akan selesai tanggal 20 Agustus ini,” katanya.
Kemudian, proyek sepanjang 6,4 kilometer ini menyerap total investasi sebesar Rp12,1 triliun dengan 11 titik pemberhentian strategis.
Bahkan, pengujian kelayakan jalur terus dilakukan oleh DJKA bersama PT Jakarta Propertindo guna menjamin standar keamanan penumpang.
Di samping itu, pembukaan jalur ini secara efektif akan menghubungkan wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, hingga Jakarta Selatan.
“Tanpa disadari, inilah yang menghubungkan tiga wilayah utama Jakarta, yaitu mulai dari utara, Kelapa Gading, kemudian Jakarta Timur, dan sekarang kita berada di Jakarta Selatan. Nanti kalau kemudian kita sambungkan sampai Dukuh Atas, empat wilayah. Jadi Jakarta Utara, Timur, Selatan, dan Jakarta Pusat,” terangnya.
Selain itu, volume penumpang diproyeksikan mampu mencapai hingga 80.000 orang per hari dalam kondisi operasional normal.
Akibatnya, konektivitas transportasi publik yang semakin solid ini diyakini akan meningkatkan minat masyarakat menggunakan angkutan umum secara masif.
“Kalau ini sudah terkoneksi, hampir semua terkoneksi, kecuali mungkin penyelesaian untuk MRT dari barat ke timur. Dan kalau itu sudah dilakukan, saya yakin penggunaan transportasi umum di Jakarta akan meningkat secara signifikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Stasiun Manggarai diproyeksikan berkembang pesat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis Transit Oriented Development (TOD).
“Nanti di tempat ini, baik dilakukan oleh pemerintah pusat atau pemerintah Jakarta atau swasta, akan dibangun banyak TOD-TOD baru. Karena apa pun ini menjadi seperti Blok M sekarang, orang akan berebut untuk datang ke tempat ini karena memang transportasi utama Jakarta, salah satunya, berhentinya di tempat ini,” imbuhnya.
Selanjutnya, Pemprov DKI Jakarta turut merencanakan perluasan jaringan LRT menuju kawasan strategis JIS serta Stasiun Kereta Cepat Halim.
Bahkan, Gubernur Pramono juga mengusulkan integrasi langsung layanan kereta bandara dari Stasiun Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta.
“Kalau kereta bandara bisa dimulai juga dari Manggarai, jadi dari Manggarai ke bandara tidak perlu orang berpindah, tetapi dari Manggarai bisa langsung ke BNI City dan langsung kemudian ke bandara. Dan itu akan sangat membantu,” tuturnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin menegaskan kesiapan fasilitas stasiun modern untuk masyarakat.
“Target kami adalah memberikan fasilitas modern yang nyaman sehingga itu bisa mengubah budaya. Jadi tidak hanya membangun infrastrukturnya, tetapi membangun masyarakatnya, perilakunya juga akan berubah karena mereka menikmati dan nyaman,” kata Iwan.
Akhirnya, pihak Jakpro berkoordinasi intensif dengan PT KAI untuk mempermudah akses perpindahan langsung penumpang LRT dan KRL.
“Orang, penduduk, warga, atau penumpang dari KRL pindah ke LRT, LRT ke KRL, itu tidak perlu turun ke bawah, bisa langsung terkoneksi dengan KAI. Jadi mobilisasinya akan lebih nyaman nantinya,” pungkasnya.
Sumber: Pemprov DKI Jakarta/jakarta.go.id
- Penulis: Husni
