Penguatan Ekosistem Kreatif Nasional Melalui Sinergi GIK UGM dan Pemerintah untuk Hilirisasi Inovasi Mahasiswa
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 94

Sumber: EKRAF (Dok. Istimewa)
YOGYAKARTA, PAStime News – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menghargai kehadiran GIK UGM sebagai tempat untuk inovasi. Selain itu, fasilitas ini mendukung kerja sama antar sektor secara terus-menerus.
Lebih dari itu, GIK menawarkan ruang kerja gratis untuk mahasiswa dan masyarakat umum. Hal ini membuat ekosistem kreatif jadi lebih terbuka dan produktif.
Program seperti Collab Day dan penggunaan teknologi 3D Printing menghubungkan penelitian akademis dengan kebutuhan dunia industri. Dengan demikian, inovasi menjadi lebih praktis.
“Saya percaya GIK bisa jadi pusat untuk berbagai sektor,” kata Irene Umar. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama profesional sejak masa kuliah.
Kerja sama ini meningkatkan kesiapan kerja para mahasiswa. Di sisi lain, program inkubasi bisnis di kampus juga menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Sementara itu, pemerintah terus mendorong pengembangan karya kreativitas. Dengan begitu, produk-produk lokal dapat bersaing di pasar internasional.
Pertemuan lebih lanjut sejak Juli 2025 juga memperkuat kerja sama strategis. Fokus utamanya adalah membuat IP berbasis inovasi digital menjadi lebih komersial.
Selain itu, acara tahunan seperti Jakal Design Week menjadi prioritas untuk pengembangan. Oleh karena itu, para kreator lokal mendapatkan ruang untuk mempromosikan karya mereka.
“Kita perlu mengubah para pelaku seni menjadi pusat pelaksanaan IP yang berpotensi di jual,” kata Irene Umar. Dengan cara ini, orientasi ekonomi bisa semakin kuat.
Selain itu, pengetahuan tentang IP geografis juga di perkuat. Hasilnya, produk lokal mendapatkan perlindungan hukum dan memiliki daya jual yang tinggi.

Sumber: EKRAF (Dok. Istimewa)
Direktur Utama GIK UGM menyambut baik dukungan dari pemerintah. Karena itu, di harapkan kerja sama operasional bisa lebih harmonis.
“Kami harap dukungan ini tidak hanya bersifat seremonial,” ujarnya. Ia juga menyatakan pentingnya kolaborasi antar sektor yang berkesinambungan.
Namun, tantangan yang di hadapi adalah keterbatasan dana di daerah. Meskipun begitu, potensi bakat di Yogyakarta tetap tinggi.
Karena itu, GIK fokus pada pengembangan konten yang berkelanjutan. Dengan cara ini, model ekosistem kreatif bisa di terapkan secara luas.
Akhirnya, kehadiran GIK di harapkan menjadi pusat bagi kolaborasi kreatif. Selain itu, ruang ini akan mendorong lahirnya solusi nyata yang bisa diaplikasikan secara nasional maupun global.
Sumber: EKRAF/ekraf.go.id
- Penulis: Husni
