Prabowo Targetkan Indonesia Stop Impor BBM, Negara Berpotensi Hemat Rp250 Triliun per Tahun
- account_circle Ghiffary Alfiansyach
- calendar_month
- visibility 123

Tangkapan layar Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada kepala daerah se-Papua dan KEPP OKP di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Youtube Sekretariat Presiden
PAStime News, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen kuat pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi nasional sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus menghemat anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan arahan kepada para kepala daerah se-Papua dan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP OKP) di Istana Negara, Jakarta, Selasa. Presiden mengungkapkan bahwa nilai impor BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar Rp520 triliun per tahun.
“Setiap tahun kita mengeluarkan ratusan triliun rupiah untuk impor BBM. Jika ketergantungan ini bisa kita kurangi setengah saja, negara berpotensi menghemat sekitar Rp250 triliun per tahun,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden menekankan bahwa penghematan tersebut dapat dicapai melalui pemanfaatan sumber energi dalam negeri, mulai dari pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit, singkong, dan tebu, hingga pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti tenaga surya dan tenaga air.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai tahun 2026. Tidak hanya itu, Presiden juga menegaskan optimisme pemerintah untuk menghentikan impor bensin di masa mendatang, seiring besarnya potensi EBT yang dimiliki Indonesia di berbagai wilayah, termasuk Papua.
“Kita punya sumber energi yang luar biasa. Tenaga surya dan tenaga air sekarang teknologinya semakin murah dan bisa menjangkau daerah-daerah terpencil. Ada juga tenaga hidro skala kecil yang sangat cocok untuk wilayah-wilayah sulit,” kata Presiden.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada daerah penghasil energi, agar manfaat energi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Menurutnya, kemandirian energi di daerah akan mengurangi beban distribusi BBM yang mahal dan tidak efisien.
Selain EBT, pengembangan bioenergi menjadi pilar penting dalam strategi swasembada energi nasional. Presiden mendorong penanaman kelapa sawit, tebu, dan singkong sebagai bahan baku biodiesel dan bioetanol, termasuk di wilayah Papua.
“Semua ini kita lakukan agar setiap daerah memiliki kemandirian energi. Tidak perlu lagi kirim BBM mahal-mahal. Papua pun harus kita dorong menanam kelapa sawit dan tebu agar bisa menghasilkan biodiesel dan etanol sendiri,” imbuhnya.
Melalui langkah-langkah strategis tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa transformasi menuju swasembada energi bukan hanya untuk memperkuat ketahanan nasional, tetapi juga untuk menciptakan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan yang berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
- Penulis: Ghiffary Alfiansyach
