Pramono Tinjau Pengolahan Sampah Hidrotermal di Pasar Kramat Jati
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 68

Sumber: Pemprov DKI Jakarta (Dok. Istimewa)
JAKARTA, PAStime News – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengunjungi proses pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, pada hari Senin (11/5).
Dalam kesempatan ini, Pramono menekankan pentingnya teknologi hidrotermal yang dapat mempercepat proses pengolahan sampah organik dengan sangat baik.
Teknologi ini juga dapat mengurangi waktu pengolahan dari tujuh hingga sepuluh hari menjadi hanya sekitar dua jam untuk setiap pengolahan.
Teknologi hidrotermal menggunakan uap panas bertekanan tinggi untuk memecah sampah organik tanpa harus membakar.
Dengan cara ini, inovasi tersebut membantu pengelolaan sampah dari sumber asalnya, khususnya di pasar tradisional.
“Dengan teknologi hidrotermal, waktu yang diperlukan untuk mengolah sampah dapat dipersingkat menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch,” kata Pramono.
Ia menambahkan,
“Ini adalah inovasi yang sangat bagus karena bisa mempercepat proses pengolahan dan sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. ”
Dari uji coba yang di lakukan pada bulan April 2026, Pasar Kramat Jati mampu mengolah 1. 708,1 kilogram sampah organik.

Sumber: Pemprov DKI Jakarta (Dok. Istimewa)
Proses ini kemudian menghasilkan 936 liter pupuk cair dengan efisiensi pengolahan yang mencapai 80 kali lebih cepat.
Selain pupuk cair, residu padat dari pengolahan juga bisa di gunakan sebagai media tanam dan pupuk organik.
Menurut Pramono, keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah dapat memberikan hasil yang nyata dan terukur.
“Ke depan, kami ingin pengaplikasian di Pasar Kramat Jati menjadi contoh untuk pasar lainnya,” ujarnya.
Pasar Kramat Jati memiliki 1. 803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah setiap hari.
Sekitar 75 hingga 80 persen dari sampah tersebut berasal dari limbah organik, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
Oleh karena itu, Pramono menekankan bahwa pasar tradisional memiliki peran penting dalam mengurangi sampah di kota.
“Pengolahan sampah organik sangat penting untuk menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” kata Pramono.

Sumber: Pemprov DKI Jakarta (Dok. Istimewa)
Kunjungan ini juga merupakan bagian dari Gerakan Pilah Sampah yang dimulai sejak 10 Mei 2026.
Selain pemerintah, partisipasi dari pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat dianggap penting dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
“Ini bukan hanya soal membuang sampah, tetapi mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat untuk lingkungan dan ekonomi,” tutup Pramono.
Sumber: Pemprov DKI Jakarta/jakarta.go.id
- Penulis: Husni
