Inovasi Pembinaan Kemandirian Lapas Banjarmasin: Sulap Area Terbatas Jadi Lahan Agrobisnis yang Sangat Produktif
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 28

Sumber: Lapas Banjarmasin (Dok. Istimewa)
BANJARMASIN, PAStime News — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin kini sukses mengoptimalkan lahan terbatas demi kegiatan pembinaan kemandirian.
Akibatnya, pada Senin (31/8), jajaran Lapas berhasil memanen sebanyak 50 kilogram kangkung segar dari area brandgang.
Selain itu, pihak pengelola juga mengumpulkan 300 butir telur dari 75 ekor ayam petelur di area SAE 2.
Oleh karena itu, kedua komoditas unggulan tersebut dihasilkan langsung melalui partisipasi aktif warga binaan yang terampil.
Selanjutnya, hasil panen kangkung diserap sepenuhnya oleh pihak vendor demi memenuhi kebutuhan dapur utama Lapas.
Sementara itu, komoditas telur ayam secara langsung disalurkan serta diserap oleh Koperasi Lapas Banjarmasin secara berkelanjutan.
Secara teknis, budidaya kangkung memanfaatkan area brandgang seluas 26 meter persegi dengan sangat efisien dan efektif.
Oleh sebab itu, warga binaan mengelola seluruh tahapan pembudidayaan tanaman, mulai penyiapan lahan hingga masa panen.
Di samping itu, jajaran Kegiatan Kerja senantiasa memberikan pendampingan intensif selama proses bercocok tanam berlangsung.
Di sisi lain, peternakan ayam petelur menggunakan sistem kandang baterai guna memudahkan perawatan serta pengumpulan telur.
Hasilnya, sebanyak 10 rak telur berhasil terkumpul hanya dalam waktu dua hari berturut-turut dengan lancar.
Mengenai hal tersebut, AY selaku warga binaan mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru dalam mengelola ternak secara rutin.
“Setiap hari kami belajar merawat ayam, mulai dari memberi pakan, memastikan kondisi kandang tetap baik, sampai mengumpulkan telur. Dari kegiatan ini saya jadi lebih memahami cara memelihara ayam petelur dan pentingnya menjaga rutinitas dalam bekerja.”
— AY, Warga Binaan Lapas Kelas IIA Banjarmasin
Selanjutnya, AY mengungkapkan bahwa partisipasi ini membentuk kebiasaan kerja teratur serta memupuk ketekunan yang sangat berharga.
Kemudian, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Bagus Paras Etika, menjelaskan pemanfaatan lahan disesuaikan dengan potensi yang ada.
“Kami berusaha memanfaatkan lahan dan fasilitas yang tersedia semaksimal mungkin. Warga Binaan ikut terlibat langsung dalam setiap proses, sehingga mereka terbiasa bekerja dengan disiplin, bertanggung jawab, dan memahami bagaimana sebuah kegiatan dikelola sampai menghasilkan.”
— Bagus Paras Etika, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Banjarmasin
Lebih lanjut, Bagus menegaskan pentingnya kepastian jalur penyerapan hasil produksi agar program dapat terus berjalan secara konsisten.

Sumber: Lapas Banjarmasin (Dok. Istimewa)
Sejalan dengan hal itu, Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan inovasi produktif tersebut.
“Lahan yang terbatas bukan alasan untuk berhenti berkarya. Yang penting adalah bagaimana ruang yang ada dikelola dengan baik dan Warga Binaan diberi kesempatan untuk belajar serta bekerja secara nyata. Ketika hasilnya juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan Lapas, tentu ini menjadi nilai tambah dari pembinaan yang kita jalankan.”
— Akhmad Herriansyah, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin
Bahkan, Akhmad berharap pengalaman agrobisnis ini menjadi bekal kemandirian yang bermanfaat saat warga binaan kembali ke masyarakat.
Akhirnya, Pengelola Koperasi Lapas Banjarmasin, Inas, menyatakan komitmen penuh untuk mendukung penyerapan seluruh hasil produksi peternakan.
“Kami dari koperasi siap mendukung dengan menyerap hasil produksi telur dari SAE 2. Dengan adanya penyerapan ini, hasil produksi dapat tersalurkan dengan baik dan kegiatan peternakan bisa terus berjalan secara berkelanjutan.”
— Inas, Pengelola Koperasi Lapas Banjarmasin
Kesimpulannya, optimalisasi ruang terbatas terbukti menghasilkan komoditas bernilai tinggi sekaligus menjadi sarana edukasi yang berkelanjutan.
- Penulis: Husni
