Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Sikap Bebas Aktif Indonesia di Eastern Economic Forum Ke-11 Vladivostok
- account_circle Husni
- calendar_month
- visibility 23

Sumber: BPMI Setpres (Dok. Istimewa)
VLADIVOSTOK: RUSIA, PAStime News — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Oleh karena itu, Indonesia menegaskan komitmen keterbukaan hubungan diplomasi bersama seluruh kekuatan besar dunia.
Selain itu, Kepala Negara hadir sebagai tamu kehormatan atas undangan resmi Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Lebih lanjut, forum ekonomi internasional ini mempertemukan para pemimpin negara, pengusaha, serta pemangku kepentingan global.
Bahkan, prinsip keterbukaan diplomasi tersebut telah diterapkan oleh pemerintah Indonesia selama beberapa dekade terakhir.
Oleh sebab itu, Indonesia secara konsisten mengedepankan hubungan bilateral yang harmonis tanpa membeda-bedakan mitra.
Selanjutnya, Presiden Prabowo menyampaikan kutipan langsung terkait asas nonblok yang dianut oleh bangsa Indonesia:
“Indonesia telah sangat terbuka selama beberapa dekade.
Kami terbuka mengenai kebijakan-kebijakan kami.
Kami selalu mengatakan ingin hubungan terbaik dengan semua negara dan kekuatan besar.
Kami, berdasarkan tradisi, adalah nonblok.
Seperti yang saya katakan, kami tidak tergabung aliansi militer mana pun.
Kami menghormati semua kekuatan,” ujar Presiden Prabowo.
Di samping itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memegang teguh kemandirian serta kedaulatan ekonomi nasional.
Maka dari itu, Indonesia selalu menawarkan skema kerja sama perdagangan yang bersikap adil kepada mitra.
Berikutnya, Presiden Prabowo menambahkan kutipan resmi mengenai independensi ekonomi nasional di hadapan peserta forum:
“Secara ekonomi, kami juga independen, dan ingin bekerja sama dengan semua sahabat.
Kami ingin bekerja sama dengan semua negara sejak hari pertama.
Dalam semua negosiasi dengan mitra, mereka tahu kami menawarkan perdagangan adil,” imbuh Kepala Negara.
Namun demikian, kebijakan inklusif tersebut bukan berarti Indonesia akan memihak pada satu kelompok politik tertentu.
Sebaliknya, pemerintah siap memberikan pelayanan diplomasi yang adil tanpa pernah mengancam kedaulatan pihak lain.
Tambahan pula, Presiden Prabowo mempertegas sikap netral Indonesia melalui kutipan pernyataan resmi berikut ini:
“Namun, kami tidak akan bekerja sama dengan satu kelompok untuk melawan kelompok lain.
Kami akan memperlakukan semua orang yang datang ke Indonesia secara adil.
Kami memberikan perlakuan sama kepada semua pihak dan kami bernegosiasi.
Kami tidak ingin mengancam siapa pun.
Jadi, itulah posisi kami,” tutur Presiden Prabowo.
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin turut memberikan apresiasi terhadap pengaruh strategis Indonesia di panggung dunia.
Kendati demikian, Rusia menganggap posisi geopolitik Indonesia sangat krusial bersama negara raksasa Asia lainnya.
Bahkan, Presiden Vladimir Putin menyampaikan kutipan langsung mengenai besarnya kontribusi strategis Indonesia secara global:
“Indonesia bukan hanya negara terbesar dengan populasi Muslim terbesar, tetapi salah satu terbesar di dunia.
Apa pun jenis kebijakan dunia, Anda harus memperhitungkan fakta ini,” ungkap Presiden Putin.
Dengan demikian, momentum Vladivostok membuktikan bahwa diplomasi Indonesia tetap berdiri tegak di atas kepentingan nasional.
Akhirnya, Indonesia terus memperjuangkan tatanan dunia multipolar yang damai, bersahabat, serta saling menguntungkan bersama.
Sumber: BPMI Setpres/presidenri.go.id
- Penulis: Husni
